oleh

Lima Negara Yang Memiliki Kapasitas Pembangkit Energi Surya Terbesar di Dunia

By Suryo SOLARENERGI.ID Pembangkit Listrik Tenaga surya adalah teknologi penting bagi banyak negara yang ingin mengurangi emisi gas rumah kaca khususnya dari sektor energi.

Di tengah meningkatnya kesadaran dan upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).  Negara-negara mulai mengadopsi energi surya sebagai solusi untuk mengurangi emisi karbon, sehingga energi surya  mengalami peningkatan yang sangat significant.  

Hal ini terlihat dari pertumbuhan kapasitas terpasang tenaga surya secara global sebesar 227 gigawatt (GW)  pada 2015 meningkat pesat di  tahun 2020 menjadi 773,2 GW. Ini berarti pembangkit tenaga surya secara global mengalami pertumbuhan setiap tahunnya rata-rata sebesar 109 GW. Meski pada tahun 2020 pembangkit tenaga surya mengalami penambahan sebesar 107 GW namun diharapkan pada 2021 ini bertambah hingga 117 GW lebih . 

Menurut Badan Energi Internasional (IEA yang dikutip dari laman www.nsenergybusiness.com tenaga surya berada di jalur yang tepat untuk membuat rekor untuk penyebaran global baru setiap tahun dengan rata-rata 125 GW kapasitas baru diharapkan secara global bertahap dari tahun 2022 hingga 2025.  

China dengan mudah merupakan pasar energi surya terbesar di dunia sejak tahun 2015 hingga sekarang, dan ketika negara itu mengembangkan rencana untuk menetralisir emisi karbonnya sebelum 2060, dimungkinkan akan semakin meningkat selama beberapa dekade mendatang.

Dikutip dari laman nasdaq.com, berikut adalah lima negara teratas yang memimpin dalam pembangkit energi surya di tahun 2020.

 1. Cina 

Cina adalah pemimpin dalam industri tenaga surya. China menambahkan 48,2 gigawatt (GW) selama tahun 2020, sehingga kapasitas terpasang kumulatifnya menjadi 253,4 GW. 

Sekarang mendominasi 35% dari pasar global. Instalasi PV tahunan negara itu tumbuh 60% dari tahun ke tahun pada tahun 2020, mewakili lebih dari sepertiga dari penyebaran global tahunan. 

Cina mengumumkan bahwa mereka akan menurunkan emisi karbon dioksida per unit PDB lebih dari 65% dari tingkat tahun 2005 dan meningkatkan porsi bahan bakar non-fosil dalam konsumsi energi primer menjadi sekitar 25%

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini