2. Amerika Serikat
Di Amerika Serikat panel surya telah mengalami tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata 42% dalam dekade terakhir, bahkan pada tahun 2020 mengalami peningkatan sebesar 17,2 GW dari tahun sebelumnya yang masih 76 GW.
Sehingga menempatkan AS di urutan kedua dengan kapasitas terpasang kumulatif sebesar 93,2 GW pada akhir tahun 2020 atau 3 % listrik di Amerika dipasok dari energi surya.
Kebijakan seperti kredit pajak investasi tenaga surya, penurunan biaya, dan meningkatnya permintaan di sektor swasta dan publik untuk listrik bersih telah mendorong industri tenaga surya, sehingga mampu menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 230.000 orang Amerika.
Kapasitas tenaga surya terpasang AS meningkat dari hanya 0,34 GW pada 2008 menjadi lebih dari 100 GW (per Juni 2021). Dan Menurut perkiraan 10 tahun Wood Mackenzie, industri tenaga surya AS akan memasang kumulatif 324 GW kapasitas baru untuk mencapai total 419 GW selama dekade berikutnya.
3. Jepang
Jepang telah memasang tenaga surya perkiraan total kapasitas terpasang sebesar 71,4 GW, mengalami peningkatan sebesar 8,2 GW dari tahun 2019 yang masih sebesar 63,2 GW. Dalam pidato kebijakan yang dibuat pada Oktober 2020,
Perdana Menteri Suga Yoshihide mengumumkan tekad Jepang untuk mengurangi emisi GRK hingga nol, menjadikan Jepang masyarakat yang netral karbon dan terdekarbonisasi pada tahun 2050.
Perdana Menteri Suga mengatakan bahwa Jepang akan menargetkan pengurangan 46% emisi GRK dari tingkat 2013 pada 2030. Menurut Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Kajiyama Hiroshi, “Jepang telah mengadopsi strategi pertumbuhan baru dalam menghadapi tantangan netralitas karbon untuk memaksimalkan sumber daya kami guna menciptakan siklus ekonomi dan lingkungan yang baik.”
4. Jerman
Jerman, ekonomi terbesar di Eropa, menempati urutan keempat dalam hal kapasitas terpasang tenaga surya, meskipun pada tahun 2019 baru mencapai 49 GW namun pada tahun 2020 menambah kapasitas terpasang sebesar 4,9 GW, sehingga total kapasitas terpasang menjadi 53,9 GW.
Pada Mei 2021, Jerman merevisi Undang-Undang Perubahan Iklim dengan menetapkan target untuk menjadi netral iklim pada tahun 2045, yang lima tahun lebih awal dari target sebelumnya pada tahun 2050, dan telah menguraikan jalan untuk mencapainya dengan target yang mengikat untuk tahun 2020-an dan 2030-an.
Target sementara untuk tahun 2030—saat ini 55%—telah ditingkatkan menjadi pengurangan GRK 65% dibandingkan tahun 1990, sementara target pengurangan sementara baru sebesar 88% telah ditetapkan untuk tahun 2040.
Uni Eropa (UE), sebagai bagian dari Kesepakatan Hijau Eropa, telah menaikkan target emisi GRK 2030 menjadi setidaknya 55% dibandingkan tahun 1990.












