oleh

Menghitung Kebutuhan Batubara PLTU Untuk Memproduksi Energi Listrik Setara 22.421 GWh.

By: Suryo, SOLARENERGI.ID – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara merupakan salah satu sumber pembangkit listrik di Indonesia yang mempunyai biaya produksi relatif lebih murah dibandingkan dengan pembangkit listrik yang bersumber dari panas bumi , gas , minyak, sehingga PLTU batubara hingga saat ini masih menjadi andalan dalam penyediaan energi listrik di tanah air guna mendorong pertumbuhan ekonomi, Karena selain biaya produksi lebih murah juga mampu beroperasi 24 jam tanpa jeda sehingga dalam system operasi tenaga listrik biasanya dijadikan sebagai pemikul beban dasar disamping kelebihan lain yaitu andal dan memiliki efisiensi sekitar 90 % jauh diatas pembangkit listrik tenaga surya yang hanya sekitar 23 %. Namun dalam menuju ekonomi  energi bersih maka keberadaan PLTU batubara menjadi salah satu kendala karena selain memproduksi listrik yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia juga menghasilkan emisi gas karbon dioksida, inilah yang menjadi kendala tumbuhnya PLTU batubara dimasa mendatang, meskipun secara teknologi untuk mengurangi emisi gas karbon dioksida telah diimplementasikan pada boiler yaitu dengan teknologi ultra super critical .

Kali ini Solarenergi mencoba menganalisa kinerja perusahaan yang mengelola pembangkit listrik di Indonesia dengan mengutip laman indonesiapower.co.id, berdasarkan laporan kinerja tahun 2020 terkait tara kalor (heat rate)  pembangkit dengan pencapaian sebesar 2.545 kcal/kWh artinya  bahwa untuk menghasilkan  energi listrik sebesar 1 kWh pada tahun 2020 PLTU membutuhkan batubara dengan nilai kalor 2.545 kcal .

Kali ini berbekan data laporan kinerja tahun 2020 PT Indonesia Power pada tiga tahun terakhir (2018 – 2020) menunjukkan tren membaik untuk kinerja kesiapan pembangkit beroperasi yaitu pada 2018 pencapaian EAF sebesar 87,94 persen dan pada tahun 2020 meningkat menjadi 94,10 persen, ini artinya jam kesiapan beroperasi pembangkit yang dikelola oleh PT Indonesia Power meningkat dalam dua tahun dari 7.703 jam di tahun 2018 menjadi 8.243 jam pada tahun 2020 , tentunya ini menunjukkan prestasi yang semakin membaik.

Tidak hanya pada kinerja EAF saja namun kinerja tara kalor seperti yang terlihat pada laporan kinerja Net Heat Rate  (tara kalor) juga mengalami kinerja yang membaik bila dibandingkan antara tahun 2018 dengan pencapaian Net Heat Rate sebesar 2.594 kcal/kWh sementara pada tahun 2020 pencapaian Net Heat Rate sebesar 2.545 kcal/kWh, artinya performance pembangkit yang dikelola PT Indonesia Power semakin hemat penggunaan batubaranya.

Dengan menggunakan data tersebut kali ini  Solarenergi.id mencoba menganalisa dengan menggunakan asumsi , apabila Net Heat Rate  dan Eqivalent Availity Factor (EAF) tersebut merupakan performance PLTU batubara unit 1 – 7 Suralaya dengan total kapasitas 3.400 MW dan dengan asumsi pembangkit tersebut beroperasi pada capacity factor sebesar 80 persen. Maka produksi energi  listrik pada tahun 2020 dari tujuh unit PLTU Suralaya sebesar ( 80 % x 3.400 MW  ) x 8.243 jam , sehingga energi listrik yang diproduksi tujuh unit PLTU  sebesar 22,420,960 MWh atau 22.421 GWh. Dengan berpedoman pada  data penjualan listrik pada tahun 2020 sebesar 33.265 GWh, maka energi listrik yang dihasilkan oleh tujuh unit PLTU Suralaya berkontribusi 67,4 %  dari penjualan energi listrik PT Indonesia Power.

Dengan asumsi desain dan spesifikasi boiler PLTU tersebut menggunakan batubara jenis medium range coal dengan nilai kalor sebesar 5.200 kcal maka prediksi kebutuhan batubara pada tahun 2020 sebanyak  : ( 2.545 : 5.200 ) x (80 % x 3.400 MW  ) x 8.243 jam  = 10.973.354.807 kg atau sekitar 11 juta ton .

Jadi untuk mengasilkan energi listrik sebesar 22.421 GWh diperkirakan membutuhkan batubara sebanyak 11 juta ton

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini