Hydro

Menjaga Faktor Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air Dengan Memelihara Daerah Tangkapan Air

334
×

Menjaga Faktor Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air Dengan Memelihara Daerah Tangkapan Air

Sebarkan artikel ini
sumber foto : english.jeszchina.com

Sedangkan terkait jumlah energi listrik (kWh) yang diproduksi oleh PLTA tidak hanya tergantung dari faktor kesiapan (EAF/ Equivalent Avaibility Factor) dan Daya Mampu Generator,  namun juga sangat ditentukan oleh volume air harian yang bisa dimanfaatkan untuk memproduksi listrik. Sebagai contoh ketika musim hujan atau air masuk ke bendungan meningkat dari kondisi normalnya maka energi listrik (kWh) yang dihasilkan lebih besar namun ketika musim kemarau atau air masuk lebih rendah dari kondisi normalnya maka energi listrik (kWh) yang dihasilkan lebih sedikit .

Hal ini mengandung arti bahwa Pembangkit Liistrik Tenaga Air (PLTA) kemampuan produksinya sangat ditentukan oleh musim untuk itu perlu pengaturan pengendalian air selama satu tahun agar selalu diatas level minimum bendungan yang dipersyaratkan untuk beroperasi meskipun dimusim kemarau, sehingga turbin air terus beroperasi setiap hari meski harus mengurangi kapasitas produksinya.

Pada umumnya kinerja PLTA diukur dari faktor kapasitas (capacity factor) yang merupakan perbandingan jumlah produksi energi listrik pertahun dibandingkan dengan kapasitas terpasang dikalikan 8.760 jam, atau  secara matematis dapat dituliskab sebagai berikut :

(Σ kWh produksi bruto per tahun / Σ kWh kapasitas terpasang × 8760 ) x 100 %

Dengan demikian menjaga daerah yang dijadikan sebagai catchment area  (daerah tangkapan air) menjadi penting agar kecepatan air masuk ke bendungan pada saat musim hujan tetap normal, namun ketika catchment area kurang terawat akibat pengurangan fungsi daerah tangkapan air maka bisa berdampak pada saat hujan turun air hujan cepat sampai bendungan yang mengakibatkan tinggi level maksimal cepat tercapat  (misalnya pada saat catchment area  normal air hujan sampai ke bendungan membutuhkan waktu 10 jam , namun akibat catchment area  berkurang air hujan sampai ke bendungan membutuhkan waktu 6 jam).

Sehingga apabila waktu air hujan yang masuk ke bendungan lebih cepat berdampak pada kenaikan ketinggian level air juga lebih cepat yang pada akhirnya untuk menjaga agar bendungan tetap aman maka air dibendungan selain untuk memproduksi listrik maksimal juga dibuang melalui spillway, karena apabila tidak dibuang melalui spillway berdampak membahayakan bendungan tersebut.

Permasalahan pengelolaan PLTA pada umumnya terjadi karena menurunnya fungsi catcment area selain adanya pendangkalan akibat  banyak lumpur yang terbawa masuk ke bendungan saat musin hujan. Terkait pendangkalan lebih mudah untuk dilakukan pemeliharaan dengan cara melakukan pengerukan secara rutin  5 tahun sekali, namun ketika cakupan daerah tangkapan air menurun sangat sulit untuk dilakukan perbaikannya meskipun bisa namun membutuhkan waktu puluhan tahun karena harus melakukan penanaman kembali daerah  tangkapan air.

Inilah yang pada akhirnya menurunkan produksi energi listrik setiap tahunnya karena ketika musim hujan meski PLTA bisa beroperasi pada daya maksimalnya namun berpotensi air juga dibuang lewat spillway dan ketika musim kemarau harus menurunkan kapasitas operasinya agar air cukup untuk memutar turbin sepanjang hari selama musim kemarau. Bila diperhatikan faktor kapasitas pembangkit selama sepuluh tahun pada umumnya menunjukkan tren menurun apabila daerah tangkapan air mengalami penurunan fungsi.

 

Tinggalkan Balasan