oleh

Cina Makin Serius Garap Kendaraan Listrik

By Hadi

SOLARENERGI.ID – Menjadi negara dengan populasi paling banyak di dunia tentu membawa banyak konsekuensi. Di satu sisi, bila bisa dikelola dengan baik, populasi yang banyak ini bisa menjadi sumber daya yang bisa membanggakan negara. Sebaliknya, jika tak mampu mengelola dengan baik, mereka justru akan menjadi beban bagi negara.

Ya, itulah Cina. Tentu semua sudah mengenal Cina? Orang Cina termasuk petualang andal. Mereka nyaris tersebar ke seluruh penjuru jagat ini. Bahkan, orang-orang Cina sudah ratusan tahun mencari kehidupan di Amerika Serikat.

Cina selama bertahun-tahun hingga kini terus berbenah diri sampai-sampai banyak negara lain yang cemburu. Tidak terkecuali Amerika Serikat. Itulah sebabnya kedua negara, Cina dengan AS, sering berseteru.

Banyak ukuran untuk melihat kualitas Cina. Dari sisi ekonomi, misalnya, Cina sudah menjadi salah satu negara terkuat di dunia. Produk domestik bruto (PDB) Cina saat ini mencapai 14,72 triliun dolar AS dilihat dari nilai saat ini. Dengan nominal sebesar itu, Cina menduduki urutan kedua ekonomi global setelah Amerika Serikat yang mempunyai PDB sebesar 20,89 triliun dolar AS.

Berdasarkan perhitungan paritas daya beli (purchasing power parity/ PPP), ekonomi Cina yang paling besar karena sudah menembus 24,27 triliun dolar AS. AS hanya berada pada urutan kedua dengan nominal mencapai 20,89 triliun dolar AS.

Tentu saja dengan posisi seperti itu, Cina terus bertekad ingin lebih unggul dalam segala bidang. Dari sisi teknologi modern, Cina sudah sebanding dengan AS, negara-negara Eropa, dan negara top Asia lainnya.

Dalam urusan energi, Cina sudah menunjukkan iktikad kuat untuk turut fokus menggarap transformasi energi. Termasuk di industri otomotif. Negara yang pernah mendapat julukan “Negeri Tirai Bambu” ini sangat serius menggarap industri otomotif berbasis energi listrik.

Beberapa produsen kendaraan di Cina sejak beberapa tahun ini telah memproduksi mobil listrik dengan berbagai segmen market. Berbeda dengan negara Amerika Serikat dan Eropa, produsen kendaraan listrik Cina berani membuat mobil listrik berharga murah.

Automaker Amerika Serikat dan negara-negara Eropa dengan karakteristik mereka, hanya membuat kendaraan listrik dengan harga jual yang tinggi. Tentu produksi mobil mereka tak terlalu mengena di hati kebanyakan masyarakat Indonesia.

Inilah ciri khas industri Cina. Dengan variasi segmen market itulah Cina kini menjadi pemimpin produsen dan market kendaraan listrik global. Produsen mobil lainnya pun mulai tertarik untuk mengajak produsen Cina menggarap mobil listrik secara bersama-sama, khususnya melalui skema joint venture.

Produksi dan penjualan naik

Berdasarkan laporan termutakhir perusahaan riset teknologi Canalys menyebutkan, kemungkinan sudah ada 6,5 juta kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terjual di seluruh dunia sepanjang 2021. Angka ini melonjak 109 persen dari tahun 2020 lalu. Ini terlepas dari total pasar mobil global yang hanya tumbuh 4,0 persen di tengah-tengah kondisi pandemi Covid-19 dan menghadapi problem kekurangan chip.

tesla, mobil listrik, kendaraan listrik, baterai listrik, mobil ramah lingkungan, kendaraan ramah lingkungan, moblis, moblis.id

Canalys mencatat permintaan kendaraan listrik, termasuk mobil listrik penuh dan kendaraan penumpang hibrida plug-in, tetap kuat pada 2021. Bahkan, sebenarnya pasar mobil listrik bisa lebih tinggi lagi bila tak menghadapi beberapa masalah, termasuk kekurangan beberapa komponen penting untuk memproduksi kendaraan.

Sekitar setengah dari 6,5 juta kendaraan listrik, yang mencakup mobil penumpang full-electric dan plug-in hybrid, dijual kepada pelanggan di Cina daratan. Jason Low, analis utama di Canalys, mengatakan mobil listrik terjual hingga mencapai 15 persen dari total mobil baru yang dijual di Cina pada 2021. Ini berarti terjadi peningkatan hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan kinerja pasar 2020.

Dengan fakta tersebut, Canalys berani memperkirakan bakal ada peluang besar pertumbuhan pada masa depan, baik pada 2022 maupun tahun-tahun berikutnya. “Karena model-model baru diluncurkan setiap bulan pada setiap segmen pasar, dari city car hingga sport utility vehicle,” ungkap Low, seperti dinukil Business Times, beberapa waktu lalu.

Wuling Hongguang Mini EV, yang diproduksi oleh perusahaan patungan antara SAIC, General Motors (GM), dan Wuling, tetap menjadi model mobil listrik terlaris Cina pada 2021 sejak dirilis pada 2020. Eropa juga menunjukkan perkembangan yang membanggakan tingkat adopsi kendaraan listrik tertinggi, dengan 2,3 juta atau 19 persen dari semua penjualan mobil pada 2021 berupa model kendaraan listrik.

Market yang tumbuh sebesar itu jelas menggembirakan karena industri otomotif, baik yang berbahan bakar konvensional maupun listrik, sama-sama menghadapi masalah pelik. Sejak pandemi pasokan semikonduktor dan chip terhambat. Banyak produsen menutup pabrik di beberapa lokasi karena kekurangan komponen penting tersebut.

“Ini (angka penjualan tersebut) terlepas dari waktu tunggu yang lama untuk mendapatkan mobil listrik baru karena kekurangan chip,” ujar analis Canalys Ashwin Amberkar. Menurut dia, pembeli harus rela menunggu 9 hingga 12 bulan untuk membawa kendaraan listrik mereka di jalanan. “Ini tidak biasa,” lanjutnya.

Dalam persaingan yang ketat, Tesla Model 3 adalah mobil listrik terlaris di Eropa. Tesla berhasil mengalahkan kinerja Volkswagen Group yang hingga kini terkenal sebagai produsen kendaraan listrik terkemuka di benua itu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini